PERKEMBANGAN PERTANIAN DI INDONESIA
UNIVERSITAS ANDI JEMA (UNANDA)
2010-2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjat kan kehadiran tuhan yang maha kuasa atas terselesainya makala yang berjudul “ PERKEMBANGAN PERTANIAN”ini penyusun juga mengucapkan terimakasi atas dukungan bapa/ibik dosen dan teman-teman sekalian yang sagat membantu terselesainya makala PERKEMBANGAN PERTANIAN
Melalui makala ini kami juga igin menginpormasikan masukan kepada para pembaca mengenal GROUPOSIAL namun penyusun menyadari bahwa penyusun masih mempunyai kekurangan dalam penyusunan makalaini.karena itu kami memintak saran dan kritikan atas makala ini dan kami juaga memperbaiki lebih baik kedepan.
Masamba,oktober 2011
Penyusun
PERKEMBANGAN PERTANIAN i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………….……………..……ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………….…………………1
A.LATAR BELAK…………………………………………….………………………….…1
B.RUMUSAN MASALAH…………………………….………………………..…………..1
C.TUJUAN PENULISAN…………………………………………………………………..2
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………..………3
A.PELUANG AGRIBISNIS DAN APA ANCAMANYA…………………….………….……………………3
B.PENINGKATAN KAFASITAS PERT DAN PDESAAN………………..….…………..6
C.PERTANIAN KRISIS GLOBAL…………………………………….……………..…..…7
BAB IV KESIMPULA…………………………………………………………………………………1
DAFTAR PUSTAKA………...……………………………………………...…………………………iv
PERKEMBANGAN PERTANIAN ii
PENDAHULUAN
. Dunia pertanian seolah-olah menunggu lonceng kematian karena gagalnya berbagai kebijakan pembangunan terkait yang tidak berhasil meningkatkan kesejahteraan petani. Problematika pembangunan pertanian memang sangat rumit dan saling berkaitan. Banyak kalangan pesimis akan masa depan pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia Kebijakan yang tidak tepat akan berakibat sangat fatal dan bisa memperburuk kondisi petani sehingga akan lebih menderita lagi.
A.LATAR BELAKANG
Hal yang paling mendasar adalah komitmen dan goodwill segenap komponen bangsa untuk mengembalikan momentum pembangunan pertanian sebagai penggerak ekonomi bangsa. Kemauan politik dan keberpihakan negara dan politisi menjadi salah satu penentu kebangkitan pertanian. Kejayaan pertanian tidak hanya menguatkan ekonomi bangsa namun juga akan meningkakan martabat bangsa dalam geopolitik internasional. Subejo (2009a) menggaris bawahi bahwa dengan mempertimbangkan kekayaa dan keragaman akan potensi sumber daya baik fisik maupun manusia, kita sebenarnya bisa cukup optimis menuju kebangkitan dan kejayaan pertanian yang akhirnya akan membawa peningkatan taraf hidup pelaku utamanya yaitu petani.
B.RUMUSAN MASALAH.
Adapun rumusan masalah dalam pembagunan pertanian yaitu:
1. Pengaruh peluang agribisnis dan apa ancaman?
2. Proses peninkatan kafasitas pertanian dan pedesaan?
3. Apa yang dimaksud pertanian krisis global?
PERKEMBANGAN PERTANIAN 1
C.TUJUAN.
Adapun tujuan dalam penulisan ini sebagai berikut :
1. Mengetahui peluang angribinis dan apa ancamanya.
2. Memahami proses kafasitas pertanian dan pedesan
3. Memahami pertanian krisis global.
PERKEMBANGAN PERTANIAN 2
BAB II
PEMBAHASAN
A.Peluang Agribisnis Sekaligus Ancaman pembangunan
Produksi massal biofuel sebagai substitusi bahan bakar minyak merupakan satu solusi yang dipercaya dapat meredakan krisis energi dunia. Negara yang paling gencar mengembangkan biofuel adalah Amerika Serikat dan Brasil yang menguasai produksi bioetanol dunia dengan proporsi 46 dan 42 persen. Sumber bahan baku produksi etanol di Brasil utamanya berasal dari tebu dan jagung yang dikembangkan di kawasan Amazon. AS memilih mengonversi jagungnya menjadi bahan baku etanol.
Sebagaimana dilaporkan oleh Subejo (2009c), Indonesia juga memandang promosi pengembangan biofuel menjadi langkah yang strategis. Pengembangan energi alternative tersebut telah dirintis sejak tiga tahun terakhir. Pilihan ini dipandang memiliki prospek yang baik karena dapat mengurangi subsidi negara untuk bahan bakar minyak, membuka kesempatan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Untuk menggencarkan pengembangan biofuel, pemerintah pusat telah membentuk Tim Nasional BBN. Sebagai implementasinya telah muncul investor nasional dan investor asing utamanya dari Jepang yang mengembangkan biofuel dengan bahan baku bervariasi, di antaranya kelapa sawit, ubi kayu, jagung, tebu, dan jarak. Pengembangan biofuel seolah sebagai dua sisi mata uang. Di satu sisi merupakan alternatif energi baru dan sebagai solusi atas krisis energi.
PERKEMBANGAN PERTANIAN 3
Di sisi yang lain ada indikasi dampak negatif dan kemungkinan ancaman kelangkaan dan kenaikan harga pangan jika bahan-bahan pangan diekplorasi sebagai bahan baku biofuel. Sejak setahun terakhir, mulai muncul perdebatan sengit para ilmuwan dunia tentang sisi positif dan negatif eksplorasi sumber daya untuk memasok biofuel. Penggunaan bahan baku yang juga merupakan bahan pangan dipandang sangat membahayakan ketahanan pangan. Selain itu, ekspansi lahan-lahan kawasan hutan sebagaimana yang dikembangkan di Brasil untuk tebu dan kelapa sawit di Indonesia diindikasikan justru berdampak pada pemanasan global karena emisi gas buang jauh lebih besar. Sebagaimana dilansir oleh National Post, di Amerika Serikat sekitar 16 persen lahan pertanian yang awalnya ditanami kedelai dan gandum diubah menjadi lahan jagung untuk memasok pabrik biofuel.
Beberapa pihak menengarai perlunya kehati-hatian dalam implementasi program pengembangan biofuel di Indonesia. Implikasi yang ditimbulkan bisa sangat fatal apabila tidak dilaksanakan dengan pertimbangan yang komprehensif. Penggunaan tetes tebu secara besar-besaran berpotensi mengurangi bahan baku gula sehingga pada gilirannya akan mengancam stok dan membahayakan produksi gula nasional. Kalau terjadi krisis, kelangkaan gula di pasaran juga akan muncul kembali. Selain itu penggunaan kelapa sawit sebagai bahan baku biofuel jika tidak terkendali akan mengancam produksi minyak goreng sebagai salah satu produk tradisionalnya.
PPERKEMBANGAN PERTANIAN 4
Ketidaktepatan strategi dan implementasinya bisa menyulut krisis minyak goreng nasional seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Beberapa ahli internasional telah menengarai bahwa efektivitas dan efisiensi biofuel masih dipertanyakan, selain karena membahayakan persediaan bahan pangan.
Namun, juga dari aspek dampak emisi gas buangnya yang disinyalir berdampak besar terhadap peningkatan pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem. Membubungnya harga pangan dunia akhir-akhir ini juga ditengarai karena kontribusi kebijakan pengembangan biofuel. Informasi mengejutkan seperti dikutip Subejo (2008c) dari laporan The Guardian Newspaper edisi 4 Juli 2008 dengan mengutip laporan World Bank yang tidak dipublikasikan menunjukkan bahwa biofuel telah menyebabkan kenaikan harga pangan dunia sampai dengan 75 persen. Tampaknya perlu adanya kebijakan strategis yang mengatur pemilihan bahan baku biofuel. Penggunaan bahan baku yang juga merupakan sumber pangan penting semaksimal mungkin dihindari karena berisiko dan mengancam ketahanan pangan.
Pemanfaatan lahan-lahan marginal seperti lahan pesisir dan daerah tandus yang kurang sesuai untuk produksi pangan dengan introduksi komoditas sumber energi yang tahan lingkungan kritis bisa menjadi alternatif. Di antaranya tanaman jarak atau pemanfaatan limbah industri pertanian, seperti limbah pabrik pengolahan crude palm oil/CPO. Selain itu pemanfaatan biomassa yang tersedia melimpah akan menjadi strategi alternatif bagi pengembangan biofuel nasional di masa depan. Pemilihan bahan baku yang bukan merupakan sumber pangan perlu mendapat prioritas yang tinggi.
PERKEMBANGAN PERTANIAN 5
B.Penigkatan Kapasitas SDM Pertanian dan Pedesaan dalam pembangunan
Persoalan pembangunan pertanian sangat erat kaitannya dengan peningkatan kapasitas SDM pelaku pembangunan. Subejo (2009b) mencatat bahwa bagi negara-negara berkembang pembangunan pertanian abad 21 selain untuk mengembangkan sistim pertanian berkelanjutan juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang menunjang sistim tersebut. Peningkatan kapasitas SDM tidak hanya dibatasi peningkatan produktivitas petani, namun juga peningkatan kemampuan petani untuk lebih berperan dalam proses pembangunan.
Persoalan krusial dalam peningkatan kapasitas SDM adalah rendahnya partisipasi petani dalam pengambilan keputusan pembangunan pertanian. Hal ini antara lain disebabkan oleh tidak adanya suatu organisasi yang memiliki kekuatan politik untuk memperjuangkan kepentingan petani di forum nasional di negara berkembang. Peningkatan SDM selain berkaitan dengan peningkatan produktifitas petani juga diarahkan pada peningkatan partisipasi politik petani dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka melalui organisasi petani mandiri. Peran aktif pemerintah dalam peningkatan SDM petani antara lain melalui reorientasi sistim penyediaan layanan dan pendanaan sistim informasi pertanian.
Pemberian ruang partisipasi dan kebebasan petani untuk mengekpresikan kepentingannya juga sangat urgen. Masih menjadi mimpi panjang sebagaimana petani melalui koperasi menjadi kekuatan yang hebat yang mampu menyuarakan dan membela kepentingan warganya seperti di Jepang dan negara-negara Eropa.
PERKEMBANGAN PERTANIAN 6
Perkembangan koperasi di pedesaan terutama Koperasi Unit Desa (KUD) juga cenderung malambat bahkan mengalami kemunduran. Hal ini dapat dlihat dari data perkembangan jumlah koperasi di Indonesia sebagaimana dilaporkan oleh Suradisatra (2007) seperti tersaji dalam Koperasi pedesaan mestinya merepresentasikan kepentingan dan dapat memberikan manfaat bagi petani baik terhadap akses sumber daya maupun akses informasi terkait dengan kegiatan bisnis petani. Indikasi penurunan jumlah KUD menjadi pekerjaan rumah berbagai pihak. Perlu adanya strategi yang tepat yang dapat merangsang petani untuk berpartisipasi aktif dalam koperasi pedesaan sehingga institusi tersebut dapat mejadi pengikat kepentingan dan aspirasi para petani di masa-masa mendatang.
C.Pertanian dan Krisis Global dalam pembangunan
Krisis ekonomi global juga memiliki implikasi pada pembangunan dan revitalisasi pertanian dan agribisnis. Ada catatan menarik seperti yang dilaporkan oleh Subejo (2009c) yaitu dengan menengok tragedi krisis ekonomi global yang saat ini tengah berlangsung di belahan dunia, nampaknya pertanian sebagai akar awal profesi kehidupan di banyak Negara menemukan kembali momentumnya untuk menjadi penggerak pekonomian bangsa.
Ada pemberitaan yang sangat menarik dari The Asahi Shimbun (16/4/2009) yang mengulas tentang strategi pada masa sulit dan kelesuan ekonomi Jepang. Dimulai sejak bulan lalu (Maret 2009) ketika pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi di mana salah satunya adalah revitalisasi pertanian.
PERKEMBANGAN PERTANIAN 7
Banyak tenaga muda produktif yang kehilangan pekerjaan di sektor industri dan jasa diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan berbagai proses produksi pertanian. Kemudian mereka (2.400 orang) dipekerjakan di berbagai sektor pertanian. Baik perusahaan pertanian, koperasi pertanian, maupun rumah tangga pertanian skala besar. Mereka mendapat upah yang layak yang tidak kalah dengan upah bekerja di industri.
Situasi ini merupakan momen yang tepat di tengah semakin berkurangnya dan menuanya para pekerja pertanian di seluruh wilayah Jepang. Selain sebagai jarring pengaman sosial/social safety net, program ini juga diarahkan untuk menjamin kedaulatan pangan dan merevitalisasi pembangunan pertanian. Belajar dari strategi Jepang sebagai negara industri terkemuka yang masih memiliki perhatian besar pada pertanian, semestinya Indonesia yang masih memproklamirkan diri sebagai negara agraris harus melakukan perhatian dan tindakan yang jauh lebih serius dari yang dilakukan Jepang. Dengan kontribusi pertanian sekitar 17 persen pada GDP nasional dan kemampuan menampung angkatan kerja lebih dari 40 persen, nampaknya tidak ada alasan yang kuat dan logis untuk mengabaikan pembangunan pertanian Indonesia. Selain itu pertanian juga merupakan penyumbang devisa negera yang cukup signifikan. Dengan semakin kokohnya dominasi produk perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao di pasar dunia potensi devisa yang dapat diraup semakin terbuka lebar.
Fungsi lain yang kadang terlupakan adalah fungsi konservasi dan kemampuan pertanian untuk memberikan ruang hidup yang nyaman, segar, dan udara yang bersih memiliki nilai yang sangat strategis. Masih banyak persoalan substansial yang belum terpecahkan.
PERKEMBANGAN PERTANIAN 8
Bukan hanya persoalan klasik peningkatan produktivitas lahan dan teknologi saja. Persoalan mendasar utamanya akses petani terhadap unsur utama pertanian juga belum terselesaikan. Paling tidak akses terhadap lahan, benih dan air. Jika akses dasar pertanian sudah terpenuhi akses-akses sekunder dan tersier yang muaranya peningkatan kesejahteraan petani perlu terus didorong.
Akses terhadap pembiayaan, pasar, dan pengolahan hasil juga sangat penting. Prioritas pembangunan pertanian yang hampir selalu berada di bawah baik di level nasional maupun daerah masih menjadi hal biasa selama beberapa tahun terakhir. Apalagi di era otonomi daerah di mana otoritas kepala daerah dan DPR daerah dalam penentuan prioritas pembangunan yang kadang masih melihat pertanian sebagai sektor yang hasilnya lama sehingga menjadi kurang menarik bagi mereka.Potensi, daya tahan akan goncangan dan multi fungsi pertanian mestinya menjadi catatan penting bagi birokrasi dan legislatif di berbagai level agar dapat dipertimbangkan menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan. Pendidikan politik akan arti penting pembangunan pertanian dan advokasi akan hal tersebut nampaknya memang perlu terus menerus dilakukan sehingga dapat menggugah kesadaran pihak yang berkompeten.
PERKEMBANGAN PERTANIAN 9
BAB III
KESIMPULAN
Indonesia mampu menghasilkan berbagai produk agribisnis baik pangan maupun produk-produk lainnya seperti perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, dan lain-lain yang mampu menguasai pasar dunia maka Indonesia tidak hanya disegani secara ekonomi; namun juga akan sangat kuat ditinjau dari geopolitik internasional. Martabat bangsa akan berkibar karena kita akan menjadi salah satu bangsa yang menentukan pasokan pangan dunia.
Mestinya ini bukan hanya sekedar mimpi. Namun, perlu direalisasikan dengan semangat dan kerja keras kita bersama. Otonomi dearah yang sejak awalnya dirancang dan dicita-citakan untuk memberikan benefit dan kedekatan pelayanan publik dari pemerintah lokal harus terus didorong agar tidak menjadi menghambat pembangunan pertanian seperti disinyalir beberapa tahun terakhir, namun justru dapat memperlancar dan memperkuat berbagai proses pembangunan pertanian.
Sinergi yang kuat dan terpadu antara pemerintah pusat dan daerah baik dalam hal alokasi sumber daya, perancangan program dan implementasi kegiatan menjadi prasyarat mutlak bagi keberhasilan pembangunan pertanian.
Selain itu, perlu terus dikembangkan mutual partnership dengan pihak-pihak swasta dan NGO akan semakin memperkuat tindakan bersama/collective action dalam pembangunan pertanian. Ancaman global terhadap pembangunan pertanian dan agribisnis seperti perubahan iklim dan pemanasan global harus menjadi perhatian yang serius bagi berbagai kalangan terkait.
Ketidaktepatan dalam penanganan dan antisipasi akan hal tersebut akan berakibat pada kemunduran pembanguan pertanian bahkan ketidakberdayaan dalam produksi pertanian. Penanganan dan antisipasi yang tepat melalui pengembangan SDM, penelitian dan pengembangan serta sosialisasi dan penyuluhan terhadap petani serta pendampingannya akan menjadi kunci keberhasilan dalam rangka adaptasi dan mitigasi terhadap ancaman perubahan iklim global tersebut.
PERKEMBANGANPERTANIAN 10
DAFTAR PUSTAKA
Colin Coulson-Thomson. 1999. ‘Public Relations, Pedoman Praktis Untuk PR’ (Terjemahan). Bumi Aksara, Jakarta.
Onong Uchjana Effendi. 1993. ‘Human Raltions and Public Relations’. Penerbit Mandar Maju, Bandung.
Saragih, Bungaran. 1998. “Kumpulan Pemikiran Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian”. Yayasan Persada Mulia Indonesia.
Soekarno, SD. 1996. ‘Public Relations, Pengertian Fungsi dan Peranannya’. Penerbit CV. Papiries, Surabaya.
Sudjijono, Budi.2008. Resesi Dunia dan Ekonomi Indonesia.Jakarta: Golden Terayon Press
di
antok,lampuwa 2010. Mhsiswa.masamba
PERKEMBANGAN PERTANIAN iii